Syukurlah
Dia baik-baik saja
Dia masih sendiri dalam perjalanan hidupnya
Dia masih mengenal dan mengingatmu dengan baik
Seketika aku flashback
Kebersamaan setengah tahun bersamanya
Hanya rekan yang saling mendukung
Kok bisa aku tidak kepikiran kalau selama ini aku ternyata diam-diam jatuh hati padanya
Detik itu
Aku terganggu dengan kehadiranmu
Aku tak ingin dia tahu apa yang sebenarnya kamu rasa
Dari cerita kalian berdua dan tatapan mata kalian
Ada rasa ketertarikan satu sama lain yang kuat
Aku tak ingin
Kebersamaanku dengannya berubah
Berjarak merenggang dan menjauh karena kehadiranmu
Tanpa pikir panjang
Aku langsung menghampirinya
Memastikan hatinya tertuju kesiapa
Dia yang keras kepala itu
Dia yang suka mengangap seisi dunia perhatian padanya
Bisa-bisanya dengan mudah beneran membuat orang jatuh hati padanya
Tak terkecuali aku
Malam ini terlalu larut
Dia tak merespond semua jalur komunikasi
Aku paksa orang rumahnya untuk mengizinkan aku bertemu
Akhirnya ia terpaksa menemuiku
Dengan nyawanya yang belum sepenuhnya kumpul
Ada hal mendesak apa
Yang membuat dia harus banget ketemu aku
Kerjaan kami sedang tidak ada kerjasama
Kalaupun ada, masih bisa besok pagi didiskusikan
Celotehmu dengan mata tertutup
Kenapa di mata dan otakku kamu cute
Mungkin aku benar-benar sudah gila
Aku tenangkan hatiku dan berbicara perlahan
Menyatakan aku jatuh hati dan serius inginkan dirimu jadi partner hidupku
Aku tak punya janji, aku hanya punya tindakan yang akan membuktikan aku adalah orang yang tepat untukmu
Kamu semakin bingung
Ini antara mimpi dan kenyataan
Aku tulus menyampaikan
Kamu memang selalu cuek tak pernah perhatian
Dan berlalu begitu saja
Besoknya
Seperti tak ada apa-apa
Kamu datang ke workshopku membawa 2 gelas ice coffee
Dan sekotak nasi
Sarapan katamu, bangun dan jangan bermimpi hari sudah pagi
Sambil pergi membawa salah satu gelas ice coffee
Setengah kecepatam cahaya
Aku berlari memastikan kamu tidak bisa meninggalkan ruangan
Semalam yang aku katakan jujur, apa adanya
Coba kamu tanya pada hatimu, ada siapa di sana yang bertahta
Aku tak berani sebut namanya
Karena aku tak terlalu percaya diri
Setengah tahun melawan setengah abad
Kamu tanya aku sakit apa
Seketika berulah dan belum juga kembali normal
Dihatimu hanya ada Tuhan Yang Maha Esa
Bersama denganku adalah sebuah hal yang tak perlu dipikirkan
Kamu menikmati kesendirianmu
Dan kalaupun kamu ingin bersandar orangnya bukan aku
Sakit
Tapi nyata
Dan aku sudah tahu itulah kamu
Dengan spontanitasmu