Kita adalah dua anak manusia
yang tumbuh dari jalan yang berbeda,
membawa luka yang berbeda,
dan belajar memahami hidup
dengan cara yang tak selalu sama.
Kau melihat dari sisi yang kau percaya,
aku melihat dari ruang yang kupahami.
Kadang kita berdiri pada satu tempat,
namun melihat arah yang berbeda.
Bukan karena aku merasa lebih tahu,
bukan pula karena aku ingin
berdiri lebih tinggi darimu.
Aku hanya sedang memberi jeda
pada logikamu,
pada sisi psikologismu,
agar mungkin suatu hari
kau dapat melihat sesuatu
dari sisi yang selama ini belum kau lihat.
Aku pun manusia.
Aku bisa salah membaca keadaan,
bisa keliru memahami perasaan,
bisa terlalu jauh menyimpulkan
sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Namun percayalah,
aku tidak pernah bermaksud
menjadi lebih tinggi dari siapa pun.
Aku hanya sedang berusaha,
sekuat yang aku mampu,
untuk menjadi manusia
yang sedikit lebih baik
dari diriku yang kemarin.
Aku belajar bahwa menjadi dewasa
bukan tentang selalu memenangkan pendapat,
melainkan tahu kapan harus berbicara,
kapan harus diam,
kapan harus bertahan,
dan kapan harus memberi ruang.
Aku rasa,
aku cukup tahu batas langkahku—
mana yang pantas kulakukan,
mana yang sebaiknya kuhentikan,
mana yang boleh kusampaikan,
dan mana yang lebih baik
kusimpan dalam hati.
Mungkin kau dan aku
memang tidak harus melihat dunia
dengan cara yang sama.
Sebab berbeda sudut pandang
tidak selalu berarti
salah satu harus kalah.
Barangkali kita hanya perlu
belajar berdiri sebentar
di tempat satu sama lain.
Melihat dari matamu,
merasakan dari hatimu,
lalu kembali kepada diriku
tanpa harus kehilangan siapa diriku.
Dan jika pada akhirnya
kita tetap memiliki cara pandang
yang berbeda,
semoga kita tetap bisa saling menghormati.
Karena mungkin,
yang Tuhan inginkan dari pertemuan kita
bukan agar kita menjadi sama,
melainkan agar dua manusia
yang berbeda cara melihat dunia
belajar menjadi lebih bijaksana
karena pernah saling mengenal.